26 November 2008

Perang Iklan Operator Seluler

Persaingan di dunia telekomunikasi makin hebat saja. Coba perhatikan gambar iklan dibawah ini. Seperti terlihat, persaingan cukup tinggi sampai ada klaim pembakaran umbul-umbul Telkomsel di Sidikalang Sumatera Utara oleh pihak XL. Namun syukurlah hal ini sudah diklarifikasi dan kedua operator sepakat berdamai dengan prakarsa BRTI. Dari informasi yang didapat yang diambil dari detik.com, kasus yang terjadi seperti di Sidikalang ini bukanlah kasus pertama. Namun semua kasus yang terjadi sejauh ini di lapangan masih bisa diselesaikan di tempat, tidak sampai mencuat ke permukaan. Kasus Sidikalang lah yang baru terdengar sampai jauh......... Sebagai pengguna layanan telekomunikasi nasional, kami hanya berharap bahwa berkompetisilah dengan cara yang elegan tanpa harus merusak baik secara fisik maupun secara image atas produk pihak lain. Konsumen akan tetap memilih berdasarkan layanan terbaik yang diberikan oleh para penyedia layanan. Bravo Fair Competition!!!

04 November 2008

Dijual: Operator CDMA

Menurut data dari Bursa Efek Indonesia, pada tanggal 19 September dan 22 September 2008, PT Global Mediacom Tbk yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo telah melepas 22,79% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk. Saat ini, saham perusahaan yang dimilikinya tinggal 28.21% dari sebelumnya 66,8%. Seperti diketahui Mobile-8 adalah salah satu operator CDMA di Indonesia.

Semenatra itu, sebulan yang lalu harian Bisnis Indonesia melaporkan bahwa tiga investors dari Timur Tengah menyatakan ketertarikannya kepada saham Bakrie Telecom termasuk di dalamnya QTel, yang belum lama ini membeli 40.8% saham di operator seluler terbesar kedua di Indonesia, PT Indosat.

Tambahan lagi, baik Telkom Flexi maupun Startone Indosat telah menurunkan ekspansinya.

Lho, apa sih yang sebernarnya terjadi?

Ada tiga kemungkinan penyebabnya yakni msalah keuangan internal perusahaan, efek buruk dari perang tarif atau masalah fleksibilitas teknis.

Dalam kasus Bakrie, beberapa waktu lalu pimpinan Bakrie Group mengatakan bahwa mereka akan menjual aset sejumlah anak perusahaan mereka termasuk di dalamnya Bakrie Telecom untuk mengumpulkan uang guna membayar hutang mereka sejumlah US$1.2 milliar yang akan jatuh tempo pada April 2009 nanti. Jadi kondisi keuang internal telah mengarahkannya mengambil langkah tersebut.

Bagaimana dengan kasus lainnya?

Apakah perang tarif telah memakan korban ataukah krisis ekonomi telah mempengaruhi bisnis ini?

Mobile-8 telah mengumumkan akan keluar dari perang tarif. Sebagai gantinya mereka akan menggantinya dengan memberikan value added services. Bagaimana dengan operator lain? Kita masih harus menunggu.

Semua orang di Indonesia tahu bahwa tarif berkomunikasi dengan handphone kini sangat murah. Makanya kualitas jaringan akan memegang peran yang sangat penting. Jika kualitas jaringan mereka jeblok, para pelanggan akan berpindah ke operator lain.

Kelihatannya hanya operator CDMA yang berdarah-darah. Operator GSM seperti Telkomsel, Indosat atau XL dan juga operator baru seperti Axis dan Three masih melakukan ekspansi jaringan. Mereka malah terus membangun.

Satu hal penting harus diingat bahwa tarif murah telah menggerus pendapatan operator.

Atau adakah keterbatasan spektrum frekuensi telah mengurangi fleksibilitas mereka. Seperti sebelumnya sudah ditulis pada Kompetisi CDMA dan GSM di Indonesia , semua operator CDMA mempunyai spektrum yang sangat terbatas (kurang lebih 5MHz bandwidth), sehingga mereka punya flesibilitas yang terbatas pula dalam membuat perancangan jaringan mereka yang berimbas akan tingginya biaya untuk ekspansi jaringan. Problem semacam ini tidak ditemukan pada operator GSM karena mereka sedikitnya mempunyai lebar pita 10MHz.

Jadi, apa dong alasan dibalik situasi ini? Sejauh ini kita tidak mengerti. Solusinya? Kami percaya bahwa pemindahtangan kepemilikan belum tentu menjadi solusi. Merger diantara operator CDMA perlu dipertimbangankan.

31 Oktober 2008

Anomali Pentarifan Seluler

Menurut data dari Ditjen Postel (diluncurkan pada 9 Oktober 2008), jumlah pelanggan telekomunikasi Indonesia lebih dari 134 juta pelanggan yang terdiri atas 8,7 juta pelanggan jaringan tetap (kabel), 12,7juta pelanggan FWA (Telkom flexi, starone, esia, dan hepi) dan 113 juta pelanggan seluler. Seperti negara berkembang lainnya, komposisi prabayar dan pasca bayar dari pelanggan seluler dan FWA di Indonesia juga timpang, 96% (lebih dari 121m) adalah pelanggan prabayar dengan hanya kurang dari 4% adalah pasca bayar. Hal ini sangat berbeda dengan negara maju di mana komposisi ini terbalik, yaitu jumlah pelanggan pasca bayar jauh melampaui jumlah pelanggan prabayar. Alasan klasik mereka adalah mereka tidak ingin membayar segala sesuatu yang belum mereka gunakan. Ngomong-ngomong, apakah Anda pernah membandingkan skema pentarifan untuk kedua jenis pembayaran (prabayar dan pasca bayar) telekomunikasi selular di Indonesia? Mari kita ambil Telkomsel sebagai contoh. Jika kita melihat kepada harga dasar maka tarif paska bayar lebih rendah dari tarif prabayar (Rp 600/min Halo, Simpati Rp 1500/min & Kartu As Rp 900/min) untuk on-net lokal, off-net (Halo Rp750 / min, Simpati Rp 1600/min; Kartu As Rp 900/min). Hanya tarif SMS lebih tinggi dari prabayar (Halo Rp 150, 125 Rp Simpati, Kartu As Rp 88). Namun, jika kita menyelidiki tarif promo, maka tarif prabayar jauh lebih rendah dari tarif paska bayar. Tarif untuk prabayar hanya Rp 0.5/second atau Rp 30/min, jauh di bawah tarif untuk pasca bayar Rp 600/min). Hal yang serupa akan ditemukan pada operator selular lainnya seperti Indosat, dan XL. XL misalnya hanya meminta pelanggan prabayar untuk membayar Rp 1.000 untuk 60 menit, sementara pelanggan paskabayar harus membayar Rp 9/detik atau Rp 540/menit. Indosat menempatkan Rp 15/detik ke semua operator untuk pasca bayar dan Rp 1000/hari untuk pelanggan prabayar. Saya rasa, skema tarif ini adalah sebuah anomali jika kita menghitung biaya sistem prabayar. Panggilan prabayar memerlukan lebih banyak sumber daya. Misalnya, sebelum terhubung, sistem akan melakukan penegecekan jumlah dana pemakai, apakah itu masih memiliki cukup dana/pulsa untuk membuat panggilan. Pemeriksaan ini berlangsung terus-menerus selama melakukan percakapan. Setelah panggilan selesai, sistem akan melaporkan biaya dari panggilan untuk mengurangi kredit. Jadi perlu sebuah sistem yang realtime. Persyaratan ini berbeda dengan sistem pasca bayar. Semua pemeriksaan dapat ditunda sampai akhir bulan saat mengirimkan tagihan. Dalam pandangan keamanan, pengguna paskabayar memiliki identitas yang jelas karena ada validasi pada awal pendaftaran. Sementara pengguna prabayar yang mendaftar online dapat memasukkan data yang tidak valid. Jadi, mengapa operator tidak menawarkan insentif yang bagus untuk pasca bayar? Shall we jump to conclusion that operators are more beneficial by getting money earlier before their network is used? Akan kah kita melompat ke kesimpulan bahwa operator lebih diuntungkan dengan mendapatkan uang lebih dulu sebelum jaringan mereka digunakan? Dan jumlah ini yang lebih besar dari biaya membangun sistem prabayar?

21 Oktober 2008

Licensi BWA Indonesia segera dikeluarkan

Otoritas telekomunikasi Indonesia segera mengeluarkan lisensi untuk akses nirkabel pita lebar BWA (broadband wireless access) pada akhir tahun 2008 ini. Menurut informasi yang ada dalam draft white paper tentang BWA terbaru, pada minggu ke-3 Nopember ini akan diumumkan akan adanya lelang/seleksi penyelenggara BWA dan diikuti dengan prosesnya sendiri yang baru akan berakhir di penghujung tahun 2008 ini. Spektrum frekuensi yang akan dilelanga adalah di 2.3GHz dan 3.3GHz. Pada 2.3GHz, tahap peratama hanya dilelang 15 MHz yaitu 2375 – 2390 MHz. Sementara untuk 3.3GHz, ada 100 MHz yang akan dibagi menjadi 8 blok masing-masing 12.5 MHz. Sayangnya, untuk 3.3GHz lokasi paling diminati (Area Jabodebatek) sudah diduduki sehingga tidak termasuk region yang dilelang. Pihak-pihak yang bisa berpartisipasi adalah para penyelenggara/penyedia jaringan dan jasa baik yang lama maupun muka-muka baru. Kedua spektrum frekuensi ini hanya diizinkan untuk nomadic BWA. Lisensi ini berdasarkan regional, dan Indonesia telah dibagi menjadi 14 region. Jiwa dari lisensi ini adalah penggunaan produksi dalam negeri. Makanya regulator mensyaratkan bahwa minimum 30% CAPEX dan 50% OPEX harus dibelanjakan di dalam negeri. Jadi, bersiap-siaplah!!!. Untuk informasi lebih lengkap, silakan baca draft white paper BWA terbaru.

11 Oktober 2008

Data Pelanggan Telekomunikasi di Indonesia

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi pada hari Kamis 9 Oktober lalu merilis data pelanggan telekomunikasi nasional. Data ini mencakup baik pelangan fixed, FWA maupun Seluler sejak tahun 2004 lalu sampai dengan pertengahan Juni 2008. Berikut adalah data tersebut.

Operator Fixed2004200520062007June 2008
PT Telkom8,559,3508,686,1318,709,2118,685,0008,654,000
PT Bakrie Telecom (Ratelindo)120,990114,08268,359--
PT. Indosat (I-Phone)20,00021,72426,63230,47930,479
PT. Batam Bintan Telekomunikasi (BBT)2,8782,5302,5002,3932,393
Fixed Wireless Access
Telkom Flexi
prabayar1,429,3683,240,5003,381,4265,535,0006,630,000
paskabayar821,300794,427828,000763,000
Indosat Starone
prabayar40,854229,726338,435594,203750,628
paskabayar11,89819,70820,54533,73144,805
Bakrie Esia
prabayar176,453351,8261,414,9203,695,8174,372,094
paskabayar 14,50820,30364,278124,884119,009
Mobile-8 Hepi
prabayar
paskabayar
Operator Seluler
Telkomsel
prabayar14,963,00022,798,00033,935,00045,977,00050,549,000
paskabayar 1,328,0001,471,0001,662,0001,913,0001,894,000
Indosat
prabayar9,214,66313,836,04615,878,87023,945,43131,613,922
paskabayar539,944676,407825,859599,991773,514
Excelcomindo (XL)
prabayar 3,743,0006,802,3259,141,33114,988,0002,423,000
paskabayar48,000176,194 386,639481,000475,000
Mobile-8 Fren
prabayar5000001,150,0001,778,200 2,920,2132,920,213
paskabayar 50,00047,68892,58892,588
Sampoerna Ceria
prabayar10,609133,746310,176 310,176
paskabayar 967288288
NTS - Axis
prabayar 10,1554,7884,788
paskabayar2,560
HCPT - Three
prabayar2,036,2022,036,202
paskabayar3,204 3,204
Smart Telecom
prabayar115,000115,000
paskabayar
Sumber: DG Postel Jumlah total pelanggan (Fixed, FWA dan Seluler) adalah: 2004: 40,712,988 2005: 60,499,948 2006: 78,623,748 2007: 112,916,388 Juni 2008: 134,577,303 Beberapa catatan: beberapa operator belum memperbaharui datanya seperti: Fren, Ceria, Axis dan Three.

06 Oktober 2008

Trafik Telekomunikasi di Sekitar Idul Fitri 1429H

Seperti biasanya, masa-masa sekitar Idul Fitri adalah masa-masa kritis bagi semua operator telekomunikasi karena lonjakan yang teramat tinggi baik untuk komunikasi suara maupun untuk layanan pesan singkat (SMS). Bagi operator yang dapat menangani semua trafik ini maka mereka akan mendapat keuntungan yang besar sementara bagi yang gagal, mereka akan kehilangan pendapatan yang banyak.

Berikut adalah data-data trafik pada masa-masa sekitar idul fitri 1429H.

PT Excelcomindo Pratama (XL) menyampaikan bahwa trafik tertinggi terjadi pada H-1 (30 Sept) dimana trafiknya meningkat lebih dari 149% di atas dari data H-1 tahun lalu. Trafik suara pada H-1 adalah 143% di atas data tahun lalu (850 juta panggilan dibanding 350 juta panggilan pada tahun lalu). Sementara itu trafik SMS hanya sekitar 16% di atas data tahun sebelumnya.

PT Indosat Tbk mengumumkan bahwa panggilan tertinggi terjadi pada H+1 (2 Okt), kira-kira 108% (272 juta detik) bila dibandingkan dengan data pertengahan September lalu. Tetapi, trafik SMS malah turun 0.7% pada periode yang sama.

Sementara itu data dari operator seluler terbesar Indonesia, PT Telkomsel belum ada. Tetapi mereka sudah mewanti-wanti bahwa trafik SMS mereka meningkat 300%-400% jika dibandingkan dengan data-data hari biasa.

Gatot Dewa S Broto, Humas DG Postel memperkirakan bahwa peninkatan panggilan disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, para pelanggan mengalami trauma akan kegagalan pengiriman SMS mereka seperti yang terjadi pada tahun yang lalu. Mereka tentunya tidak mau hal ini terulang lagi. Kedua, biaya percakapan kini jauh lebih murah, karena itu mereka lebih suka berbicara langsung saja.

Hasil Monitoring

Pada tanggal 23 September lalu, Ditjen Postel dan BRTI melakukan pengujian kualitas layanan di sepanjnag arus mudik, baik yang ke arah Jawa maupun yang ke arah Sumatera. Hasilnya semua operator lolos tahp ini dengan beberapa catatan untuk Three (HCPT), Axis (GSM & 3G), Startone dan Hepi (CDMA), kendati tidak semuanya lolos dalam jalur ini, namun masih bisa dimengerti.

Sayangnya informasi hasil test hanya tentang cakupan signal saja (coverage). Informasi lain seperti: dropped call, blocked call dan congestion call tidak diumumkan. Kesuksesan suatu panggilan ditentukan oleh data-data tersebut. Standar Kualitas Layanan dihitung bukan hanya dari cakupan signal saja, tetapi juga dari data-data tersebut. Jadi, untuk mengatakan suatu operator lolos standar kualitas layanan, data dropped call, blocked call dan congestion call haruslah pada suatu nilai minimal tertentu yang logis. Kita berharap regulator sudah mendefinisikan hal ini sehingga kita dapat membamdingkannya dengan data faktual di lapangan.

23 September 2008

Dirjen Lepas Tim Penguji Kualitas Layanan Telekomunikasi

Dirjen Postel Basuki Yusuf Iskandar pada hari Rabu tanggal 24 September 2008 jam 08.30 telah melepas secara resmi tim yang akan menguji kualitas layanan telekomunikasi dalam rangka menghadapi trafik yang meningkat sangat tajam pada saat dan sesudah Hari Raya Idul Fitri 1429H. Tim akan terdiri atas pejabat dan staf dari Ditjen Postel dan BRTI serta sejumlah penyelenggara telekomunikasi. Rombongan tim peninjauan lapangan ini akan terbagi dalam tiga kelompok sesuai dengan tujuan peninjauan, yaitu ada tim yang menuju ke Merak (para anggota tim dari Ditjen Postel, BRTI, PT Excelcomindo Pratama dan PT Smart Telecom ), yang ke Cileunyi-Nagrek-Garut (para anggota tim dari Ditjen Postel, BRTI, PT Telkomsel, PT Bakrie Telecom dan PT Huchison CP Telecommunication), dan yang ke Cirebon (para anggota tim dari Ditjen Postel, BRTI, PT Telkom, PT Indosat dan PT Mobile-8). Hal ini untuk menyikapi kondisi beberapa waktu terakhir ini dimana kualitas layanan telekomunikasi cenderung sering fluktuatif dan dalam beberapa waktu tertentu sering kurang memuaskan. Meskipun secara random bebeberapa penyelenggara telekomunikasi telah menunjukkan kepada publik tentang komitmen kesanggupannya untuk memberikan kualitas layanan telekomunikasi yang baik selama Lebaran ini, namun demikian Ditjen Postel dan BRTI tetap memandang penting untuk secara on the spot melakukan pengecekan di lapangan melalui beberapa titik di lokasi tertentu.

Kegiatan ini sebetulnya adalah tindak lanjut dari dikeluarkannya Peraturan Menteri Kominfo yang terkait dengan standar kualitas layanan telekomunikasi yang telah efektif mulai berlaku pada tanggal 21 Juli 2008. Beberapa parameter yang akan dicek dalam peninjauan tersebut meliputi ketersediaan jaringan, endpoint service, ketersediaan layanan (baik on net maupun off net) dan kinerja layanan pesan singkat. Dalam pengukuran ini akan dapat diketahui prosentase kemungkinan terjadinya dropped call dan blocked call. Adapun metode pengecekan adalah menggunakan sistem test call dan drive test. Jika dalam test call, maka pengujian ini dilakukan dengan posisi tidak bergerak dalam wilayah yang dapat diakses publik yang berada di dalam wilayah cakupannya. Dalam test call ini juga termasuk dengan uji coba pengiriman SMS. Sedangkan dalam sistem drive test, maka pengujian dilakukan ketika berkendaraan di jalan utama dan daerah perdagangan serta pemukiman padat penduduk. Di samping itu juga akan dilakukan serangkaian panggilan pengujian baik yang off net maupun on net. Yang paling penting dalam sistem ini adalah, bahwasanya antena perangkat bergerak yang memanggil dan yang menerima harus ditempatkan pada ketinggian yang sama dan di dalam kendaraan yang sama. (Sumber: Postel)

22 September 2008

Proses Seleksi Jartap SLJJ Paling Lambat Akhir 2008

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi pada 7 September lalu mengumumkan bahwa Seleksi Penyelenggara Jaringan Tetap SLJJ akan dilakukan sebelum 31 Desember 2008. Keputusan Menteri mengenai hal ini telah ditanda tangani pada akhir Agustus lalu.

Ada beberapa perubahan dalam dokumen ini jika dibandingkan dengan dokumen sebelumnya. Salah satu yang terpenting adalah peserta yang boleh berpartisipasi dalam tender ini dituliskan dengan sangat jelas; yaitu operator jaringan tetap lokal dan operator jaringan wireless lokal dengan mobilitas terbatas dengan jumlah pelanggan yang banyak. Dengan keputusan ini maka peserta yang mungkin adalah: Indosat, Bakrietel and Mobile-8. Telkom yang juga memenuhi persyaratan seperti diketahui sudah memiliki lisensi ini. Telkom saat ini adalah satu-satunya provider yang menyediakan jasa sambungan jarak jauh menggunakan fixed line.

Sedangkan untuk proses seleksi penyelenggaraan jaringan tetap lokal dan jaringan tetap sambungan langsung jarak jauh akan dilaksanakan paling lambat pada tanggal 31 Maret 2009.

Dengan adanya tender ini dan implementasinya kelak, pelanggan akan mempunyai banyak pilihan dalam melakukan panggilan lokal dan jarak jauh. Tingkat kompetisi akan semakin tinggi yang akan menghasilkan kualitas yang lebioh baik dengan harga yang lebih murah. Kami selalu mendukung segala kebijakan untuk telekomunikasi Indonesia yang lebih baik.

01 Juli 2008

Menggaet Pelanggan Baru, Mengabaikan Kualitas

Hampir semua operator seluler di Indonesia saat ini mempromosikan tarif murah gila-gilaan kepada para pelanggan baru. Kita bisa melihat iklan mereka di beragam media seperti: Gratis bicara selama 3 bulan (Smart Telecom), Rp 1/panggilan (Axis World), Gratis nelpon dan SMS (XL), Rp 0.5/detik (Telkomsel), Rp 9/detik untuk 1 menit pertama, selebih gratis sampe dower (Mobile-8), Rp 60/panggilan (HCPT), Rp 1/karakter untuk SMS (Bakrie). Pelanggan menjadi bingung memilih operator mana yang cocok untuknya. Tentunya mereka tidak akan mencoba satu per satu. Seperti ditulis pada posting sebelumnya value-communication dan standar-kualitas-layanan, beberapa jaringan penyedia layanan tidak siap menerima begitu banyaknya pelanggan baru. Akibatnya kualitas layanan menurun secara signifikan. Menurut survey yang dilakukan oleh Sharing Vision pada bulan April 2008, tingkat ketidakpuasan pelanggan seluler Indonesia naik cukup tajam baik untuk pelanggan GSM (global system for mobile communication) maupun CDMA (code division multiple access). Hal-hal yang survery menyangkut fitur layanan, respon jaringan dan kejelasan suara. Angka ini berturut-turut adalah 7%, 19% and 16%. Angka ini jauh diatas hasil survey pada Agustus 07, yang berturut-turut hanya 3%, 5% dan 2%. Survey juga mendapati bahwa customer terpengaruh oleh promosi dari masing-masing operator. Mereka merasa bahwa para operator masih menyembunyikan biaya tambahan dari skema tarif mereka. Pada setiap iklan, ada tanda bintang yang menyatakan syarat dan ketentuan berlaku. Ini berarti bahwa kondisi tertentu yang menyebabkan tarif tersebuit berlaku seperti panggilan di sesama jaringan, waktu menelpon, khusus untuk produk tertentu dan lain sebagainya. Jadi, perang tarif telah menghasilkan bukan hanya penurunan kualitas layanan tetapi juga meninggalkan customer yang kecewa. Semua pelanggan akan mengalami kualitas sinyal yang rencah, drop call, call congestion (tidak bisa melakukan panggilan), SMS yang telat atau malah tidak terkirim dan sebagainya. Pada sisi operator, apa sih yang mereka peroleh? Hanya pelanggan baru saja, bukan uang yang banyak. Dengan tarif yang sangat murah, berapa banyak sih uang yang mereka dapatkan dari para pelanggan baru ini? Dalam pandangan kami, perang tarif telah merugikan pelanggan dan operator itu sendiri. Bagaimana tanggapan anda? Kita masih mengunggu pihak regulator yang akan membenahi keruwetan di industri telekomunikasi seluler nasional. Keputusan menteri tentang Kualitas Standar Layanan akan mulai diterapkan sejak 21 Juli 2008. Semenjak itu kita harapkan kita mempunyai layanan telekomunikasi yang lebih baik. Semoga.

Pasar Indonesia menggerakkan penetrasi dengan Handset Super Murah

The CDMA Development Group (CDG) mengumumkna bahwa pada kuartal I 2008, Indonesia telah mempunyai lebih dari 16.3 juta pelanggan CDMA2000. Menurut Perry LaForge, executive director of the CDG, Indonesia telah berkembang menjadi tempat pertunjukan core value dari teknologi CDMA2000. “Dengan kombinasi dinamis antara handset super murah dan layanan value-added broadband, ke 6 operator CDMA telah melambungkan revenuenya dan menggerakan wilayah ini menjadi arena perkembangan telepon bergerak dan internet,” kata LaForge. Saat ini, CDMA 2000 operator Indonesia adalah Telkom Flexi (PT Telkom), StarOne (Indosat), Smart Telecom, Fren (Mobile-8 Telecom), Esia (Bakrie Telecom) dan Ceria (Sampoerna Telekomunikasi Indonesia or STI). Sampai dengan Maret 2008, jumlah pelanggan CDMA2000 dari ke 6 operator CDMA ini telah melebihi 16.3 juta, naik dari 14.4 juta pada akhir 2007 dan 7.8 juta pada akhir 2006, merepresentasikan kenaikan tahunan berturut-turut sebesar 53 persen dan 85 persen, Di sisi lain, Chief Executive Officer of PT Smart Telecom mengatakan bahwa dengan CDMA2000, mereka sangat yakin menyediakan layanan telekomunikasi yang terjangkau oleh semua orang dari semua lapisan masyarakat. Ini membuktikan bahwa CDMA2000 dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan telekomunikasi bagi para pelanggan di negeri ini. (translated from SDA Asia Magazine).