01 Juli 2008

Menggaet Pelanggan Baru, Mengabaikan Kualitas

Hampir semua operator seluler di Indonesia saat ini mempromosikan tarif murah gila-gilaan kepada para pelanggan baru. Kita bisa melihat iklan mereka di beragam media seperti: Gratis bicara selama 3 bulan (Smart Telecom), Rp 1/panggilan (Axis World), Gratis nelpon dan SMS (XL), Rp 0.5/detik (Telkomsel), Rp 9/detik untuk 1 menit pertama, selebih gratis sampe dower (Mobile-8), Rp 60/panggilan (HCPT), Rp 1/karakter untuk SMS (Bakrie). Pelanggan menjadi bingung memilih operator mana yang cocok untuknya. Tentunya mereka tidak akan mencoba satu per satu. Seperti ditulis pada posting sebelumnya value-communication dan standar-kualitas-layanan, beberapa jaringan penyedia layanan tidak siap menerima begitu banyaknya pelanggan baru. Akibatnya kualitas layanan menurun secara signifikan. Menurut survey yang dilakukan oleh Sharing Vision pada bulan April 2008, tingkat ketidakpuasan pelanggan seluler Indonesia naik cukup tajam baik untuk pelanggan GSM (global system for mobile communication) maupun CDMA (code division multiple access). Hal-hal yang survery menyangkut fitur layanan, respon jaringan dan kejelasan suara. Angka ini berturut-turut adalah 7%, 19% and 16%. Angka ini jauh diatas hasil survey pada Agustus 07, yang berturut-turut hanya 3%, 5% dan 2%. Survey juga mendapati bahwa customer terpengaruh oleh promosi dari masing-masing operator. Mereka merasa bahwa para operator masih menyembunyikan biaya tambahan dari skema tarif mereka. Pada setiap iklan, ada tanda bintang yang menyatakan syarat dan ketentuan berlaku. Ini berarti bahwa kondisi tertentu yang menyebabkan tarif tersebuit berlaku seperti panggilan di sesama jaringan, waktu menelpon, khusus untuk produk tertentu dan lain sebagainya. Jadi, perang tarif telah menghasilkan bukan hanya penurunan kualitas layanan tetapi juga meninggalkan customer yang kecewa. Semua pelanggan akan mengalami kualitas sinyal yang rencah, drop call, call congestion (tidak bisa melakukan panggilan), SMS yang telat atau malah tidak terkirim dan sebagainya. Pada sisi operator, apa sih yang mereka peroleh? Hanya pelanggan baru saja, bukan uang yang banyak. Dengan tarif yang sangat murah, berapa banyak sih uang yang mereka dapatkan dari para pelanggan baru ini? Dalam pandangan kami, perang tarif telah merugikan pelanggan dan operator itu sendiri. Bagaimana tanggapan anda? Kita masih mengunggu pihak regulator yang akan membenahi keruwetan di industri telekomunikasi seluler nasional. Keputusan menteri tentang Kualitas Standar Layanan akan mulai diterapkan sejak 21 Juli 2008. Semenjak itu kita harapkan kita mempunyai layanan telekomunikasi yang lebih baik. Semoga.

Pasar Indonesia menggerakkan penetrasi dengan Handset Super Murah

The CDMA Development Group (CDG) mengumumkna bahwa pada kuartal I 2008, Indonesia telah mempunyai lebih dari 16.3 juta pelanggan CDMA2000. Menurut Perry LaForge, executive director of the CDG, Indonesia telah berkembang menjadi tempat pertunjukan core value dari teknologi CDMA2000. “Dengan kombinasi dinamis antara handset super murah dan layanan value-added broadband, ke 6 operator CDMA telah melambungkan revenuenya dan menggerakan wilayah ini menjadi arena perkembangan telepon bergerak dan internet,” kata LaForge. Saat ini, CDMA 2000 operator Indonesia adalah Telkom Flexi (PT Telkom), StarOne (Indosat), Smart Telecom, Fren (Mobile-8 Telecom), Esia (Bakrie Telecom) dan Ceria (Sampoerna Telekomunikasi Indonesia or STI). Sampai dengan Maret 2008, jumlah pelanggan CDMA2000 dari ke 6 operator CDMA ini telah melebihi 16.3 juta, naik dari 14.4 juta pada akhir 2007 dan 7.8 juta pada akhir 2006, merepresentasikan kenaikan tahunan berturut-turut sebesar 53 persen dan 85 persen, Di sisi lain, Chief Executive Officer of PT Smart Telecom mengatakan bahwa dengan CDMA2000, mereka sangat yakin menyediakan layanan telekomunikasi yang terjangkau oleh semua orang dari semua lapisan masyarakat. Ini membuktikan bahwa CDMA2000 dapat memenuhi keinginan dan kebutuhan telekomunikasi bagi para pelanggan di negeri ini. (translated from SDA Asia Magazine).

09 Juni 2008

Breaking news: Qtel Beli Saham Indosat 1,8 Miliar Dollar AS

Minggu, 8 Juni 2008 | 01:06 WIB Jakarta, Kompas - Qatar Telecom atau Qtel mengakuisisi 40,8 persen saham Indosat Tbk dari kepemilikan Asia Mobile Holding Pte Ltd. Qtel akan membayar tunai akuisisi itu 2,4 miliar dollar Singapura atau ekuivalen dengan 1,8 miliar dollar AS. Kesepakatan akuisisi yang dicapai Jumat (6/6) itu diungkapkan Qtel bersama Singapore Technologies Telemedia Pte Ltd sebagai induk perusahaan AMH dalam siaran persnya Sabtu di Jakarta. Dengan kurs Rp 9.350 per dollar AS saat ini, berarti nilai akuisisi tersebut mencapai Rp 16,8 triliun. ST Telemedia ketika memenangi divestasi 41,94 persen saham Pemerintah Indonesia di Indosat pada Desember 2002 membayar Rp 12.950 per saham. Dari penjualan saham itu, Pemerintah Indonesia menerima dana Rp 5,62 triliun waktu itu, (Kompas, 16/12/2002). Qtel merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi dengan pertumbuhan cepat di Timur Tengah, sementara ST Telemedia perusahaan komunikasi dan informasi Singapura yang beroperasi di Asia Pasifik, Amerika, dan Eropa. Chairman Grup Qtel Sheikh Abdullah Al Thani mengatakan, pihaknya sangat gembira untuk memperkuat kepemilikan strategisnya di Indosat. Transaksi ini menunjukkan komitmen Qtel terhadap Indonesia dan pembangunan infrastruktur yang cepat. ”Dengan transaksi ini, Qtel melayani 44 juta pelanggan di 16 negara. Kami siap bekerja sama manajemen dan karyawan Indosat, dan menghargai kinerja mereka yang sangat baik,” katanya. Nasser Marafih, Chief Executive Officer Qtel, menambahkan, investasi ini bagian dari strategi pertumbuhan Qtel dan memberi peluang untuk meluaskan ekspansinya di Indonesia. ”Kami yakin Indonesia merupakan pasar dengan pertumbuhan tinggi untuk telekomunikasi dan Indosat sangat kompetitif di pasar,” katanya. (*/DIS)

31 Mei 2008

Standar Kualitas Layanan

Seperti ditulis dalam indonesian-cellular-too-many-carriers, saat ini ada begitu banyak operator seluler di Indonesia. Karena itu, perkembangan bisnis telekomunikasi di Indonesia sangat cepat sekali. Telepon bergerak sudah menjadi alat komunikasi utama di negara yang masih berkembang ini. Setelah itu, perang tarif terjadi di antara operator dan akibatnya permintaan akan komunikasi bergerak naik tajam sekali Pengaruh perang tarif ini bukan hanya menimpa pengguna baru, tetapi juga pada pengguna lama. Karena jumlah pengguna naik tajam, jaringan beberapa operator belum siap menampung semua trafik. Pelanggan menerima pengalaman buruk seperti panggilan yang tidak sukses, panggilan terputus, call congestion dan lain sebagainya. Jadi, kemajuan bisnis telekomunikasi di Indonesia telah mengorbankan banyak standar kualitas layanan. Untuk mengatasi situasi ini, kementrian informasi dan komunikasi Indonesia (infokom) dalam waktu dekat akan mengeluarkan beberapa regulasi tentang standar minimum untuk kualitas layanan. Keputusan menteri Infokom tentang standar kualitas layanan ini mencakup beberapa permen di antaranya: standar kualitas untuk: telepon tetap, telekomunikasi bergerak, dan lain sebagainya. Regulasi ini sebetulnya sudah dipersiapkan jauh-jauh hari sejak setahun yang lalu dan juga pernah dilakukan konsultasi publik. QoS pada industri telekomunikasi diukur dari perspektif seorang ahli, misalnya insinyur teletrafik, yang biasanya bekerja pada suatu opertor telekomunikasi itu sendiri. Akankah mereka akan memberikan informasi yang jujur? Saya percaya bahwa direktorat Pos dan Telekomunikasi (Postel) akan membentuk gugus tugas untuk melakukan pengukuran kualitas secara ad-hoc. Dan dapat dipastikan bahwa hasil pengukuran dari kedua belah pihak ini (Postel dan Operator) akan berbeda. Adakah solusi untuk permasalahan ini? Ya, tentu. Kita harus menemukan suatu tool yang terpasang di setiap handset dan melaporkan kondisinya ke server. Ini seperti alat drive test, cuman massal. Tentunya cara pengukuran ini lebih adil dan tidak ada alasan bagi operator untuk mengelak.

15 Mei 2008

Jenis Lisensi CDMA di Indonesia

Hai, bagi yang cukup telaten memonitor bisnis seluler di Indonesia akan merasa aneh dengan hadirnya Hepi, layanan fixed wireless akses dari Mobile-8. Sebagaimana anda ketahui, Mobile-8 telah meluncurkan Fren sejak beberapa tahun lalu. Kenapa ya perusahaan ini kembali meminta lisensi jenis lain, FWA? Sebetulnya, memang ada 2 jenis lisensi CDMA di Indonesia. Pertama adalah mobile CDMA atau Cellular CDMA dan yang kedua adalah Fixed Wireless Access CDMA. Yang terakhir ini lebih dikenal sebagai limited mobility (LIMO)atau monilitas terbatas. Ada beberapa perbedaan diantara dua lisensi ini. Dalam hal layanan, pelanggan cellular CDMA dapat dilayani di seantero negeri, sementara pelanggan FWA hanya untuk satu kode area saja. Anda bisa melihatnya dari nomor telepon pelanggan. Pelanggan mobile CDMA mempunyai angka depan 0 di nomor teleponnya, sementara pelanggan telepon FWA adalah seperti nomor telepon rumah. Dengan demikian, setiap pemanggil akan menekan angka 0 jika dia ingin menelpon pelanggan cellular CDMA. Misalnya 089xxxxxxx, 08811xxxxxx. Sementara jika seseorang dari pelanggan fixed bisa mendial langsung nomor telepon FWA tujuan tanpa ada angka 0 nya. Apakah pengaruh dari penomoran seperti ini? Pada cellular CDMA, anda bisa pergi kemana saja di seantero negeri dan anda dapat dihubungi melalui nomor cellular CDMA anda selama operator anda mempunyai coverage di daerah tersebut. Di sisi lain, pelanggan FWA tidak menerima fasilitas tersebut. Dia harus mengganti nomor teleponnya jika dia berpindah ke kode area yang berbeda. Dan perlu diingat nomor ini akan selalu berganti-ganti jika dia berpindah-pindah kode area, yang akan kembali sama jika dia pulang ke kota asalnya. Hal ini tentunya sangat tidak nyaman bagi seorang pelanggan. Tetapi perbedaan utama dari sisi bisnis adalah biaya hak penggunaan (BHP) spektrum frekuensi. Inilah sebetulnya yang menyebabkan operator seluler CDMA meminta lisensi FWA ke regulator. BHP untuk seluler CDMA adalah 6 kali BHP untuk FWA. Karena itu, tarif FWA bisa jauh lebih murah. Jadi, anda pilih yang mana? Apakah Cellular CDMA dengan kemudahan melakukan panggilan di seluruh negeri tetapi tarif yang lebih mahal ataukah fixed wireless access CDMA dengan penomoran yang sangat rumit jika bepergian namun dengan harga tarif yang jauh lebih murah? Saya percaya bahwa pelanggan akan selalu memilih operator terbaik yang dapat memberikan layanan yang mantap tanpa memandang apakah seluler atau FWA.

06 Mei 2008

Nomor Telepon Gengam: Identitas Baru Yang Penting

Pada masa dahulu kala, kita hanya punya alamat rumah sebagai identitas kita. Seseorang yang ingin mengirimkan informasi atau surat ke kita akan mengirimkannya ke alamat rumah kita. Setelah itu ada setiap penduduk diberi kartu identitas, seperti kartu tanda penduduk dan setiap orang dibedakan dari nomor kartu penduduk tersebut. Ketika jaringan telepon masuk ke rumah kita, identitas baru muncul, nomor telepon rumah. Kita jadinya punya banyak identitas. Pada era teknologi informasi, identitas baru diperkenalkan, yakni alamat email (electronic mail). Seseorang yang mau berkirim kabar kepada kita tinggal mengirimkannya melalui kotak surat elektronis tersebut. Proses pengirimannya langsung dan bisa diterima segera. Jarak akhirnya menjadi kabur. Pada era mobilitas, telepon genggam mempunyai peranan yang penting. Hampir semua orang-orang penting mempunyai telepon genggam tersebut. Mereka menggunakan perangkat tersebut untuk menghubungi dan dihubungi orang lain. Sejak saat itu, setiap orang penting ini akan dikenal dengan nomor telepon genggamnya. No telepon genggam (bergerak) ini menjadi nomor yang sangat berharga sehingga tidak ada orang-orang hebat yang ingin menggantinya. Ada banyak kerugian bila seseorang mengganti nomor telepon genggamnya. Pertama, dia harus mengganti kartu namanya karena adanya perubahan nomor tersebut. Berikutnya, mereka harus memberitahukan ke semua kontak bisnisnya, kerabat, sanak saudaranya bahwa dia telah mengganti nomor telepon genggamnya dengan nomor baru. Di samping itu, teman dan rekan bisnisnya mendapat kesulitan menghubungi karena penggantian nomor ini. Satu-satunya keuntungan dengan mengganti nomor telepon genggam anda adalah ketika anda ingin menghindar dari rekan-rekan anda. Ringkasnya, mempertahankan nomor telepon genggam akan lebih menguntungkan daripada menggantinya, apalagi jika anda melakukannya acapkali. Untuk waktu yang panjang, nomor telepon genggam akan menjadi identitas setiap orang. Bila gaya hidup dengan gerak cepat telah menjalar samapi ke masyarakat kelas bawah, nomor telepon genggam akan dimiliki siapa saja. Seseorang akan dikenal dengan nomor telepon genggamnya. Pernahkah anda melakukan test case, misalkan anda lupa membawa telepon genggam anda? Bagaimana perasaan anda? Orang-orang penting akan kembali ke rumah (atau menyuruh seseorang untuk mengantarkannya) untuk mengambilnya. Hal ini disebabkan telepon genggam merupakan suatu alat yang sudah tidak bisa dilepaskan dari seseorang. Itulah yang disebut sebagai gaya hidup dengan mobilitas tinggi (mobile lifestyle). Kesimpulannya, telepon genggam dan nomornya telah menjadi identitas yang penting untuk semua.

17 April 2008

Kompetisi GSM dan CDMA di Indonesia

Seperti dituliskan pada posting sebelumnya, Indonesia saat ini mempunyai 11 operator selular, 5 diantaranya menggunakan GSM based technology, sementara 6 sisanya menggunakan CDMA based technology. Jika pada tulisan sebelumnya kami mempertanyakan jumlah operator yang begitu banyak, maka pada kesempatan ini kami ingin memberikan gambaran kompetisi kedua technology ini di Indonesia. Pertama mari kita bahas pemakaian lebar pita oleh masing-masing operator. Perhatikan tabel dibawah ini. Daftar Lebar Pita Frekeuensi Masing-Masing Operator

Operator Technology Lebar Pita (MHz)
Indosat GSM+DCS 30
Indosat3G5
TelkomselGSM+DCS30
Telkomsel3G5
XLGSM+DCS15
XL3G5
HCPTGSM/DCS10
HCPT3G5
NTS / AxisGSM/DCS10
NTS / Axis3G 5
Telkom FlexiCDMA5
Indosat StarOneCDMA5
Bakrie Esia CDMA5
Mobile-8 FrenCDMA5
Smart TelecomCDMA (PCS)6,875
Sampoerna CeriaCDMA 4507,745
Bila kita melihat lebar pita frekuensi yang dipergunakan masing-masing operator (lihat tabel) maka dapat disimpulkan bahwa operator GSM selalu mempunyai lebar pita yang lebih besar dari oeprator CDMA. Minimal 15 MHz (10 MHz GSM/DCS + 5MHz UMTS). Sementara para operator CDMA hanya memiliki 5 MHz, atau paling banyak 7,475Mhz. Apakah akibat dari lebar pita ini? Operator GSM yang juga mempunyai technology 3G memiliki keleluasaan dalam merancang jaringan mereka. Dengan lebar pita yang memadai maka investasi yang mereka tanamkan akan lebih sedikit bila dibandingkan dengan lebar pita yang hanya 5 MHz seperti yang dialami oleh para operator CDMA. Sekarang perhatikan jumlah pelanggan dari masing-masing technology. Harian bisnis Indonesia pada tanggal 16 April 2008 lalu menampilkan jumlah pelanggan aktif dari masing-masing operator seluler. Terlihat jelas bahwa operator CDMA masih mempunyai jumlah pelanggan dalam orde 1 digit jutaan, sementara operator GSM mempunyai pelanggan dengan orde 2 digit jutaan. Apakah ini pertandingan yang seimbang? Silakan menilai sendiri.

25 Maret 2008

Telekomunikasi Murah

Dalam dunia penerbangan kita mengenal satu perusahaan dengan nama Valuair, yakni suatu penerbangan dengan biaya murah. Maskapai penerbangan murah semacam ini memangkas sejumlah biaya promosi, biaya administrasi dan mengurangi sejumlah servis sehingga dengan harga murahpun mereka masih mendapatkan keuntungan.

Hal yang mirip saat ini juga muncul di industri telekomunikasi nasional. Banyak operator seluler yang saat ini berlomba menawarkan layanan tarif percakapan yang sangat murah. Perang tarif sedang terjadi. Rezim tarif yang berdasarkan jarak dan waktu sudah mereka hilangkan dan diganti dengan flat tarif. Mereka memang masih membedakan tarif On Net dengan Off Net.

Apakah masyarakat diuntungkan dengan kondisi seperti ini?

Secara kasat mata memang konsumen diuntungkan karena biaya percakapan mereka turun secara drastis. Mereka bisa dengan berbicara sepuasnya dengan satu tarif saja yang jumlahnya juga sangat murah. Tetapi dilain pihak, sama seperti penerbangan murah tentunya ada hal yang dikorbankan.

Pertama, lihatlah kualitas jaringan saat ini dan bandingkan dengan sebelum tarif baru ini diluncurkan? Pengalaman membuktikan bahwa successful call ratio turun secara drastis. Anda harus berkali-kali mendial sebelum tersambung ke nomor tujuan. Hal ini disebabkan tingginya trafik pembicaraan sementara jaringan masih tetap sama.

Pelanggan kelas bawah terutama yang dulunya gemar sekali berkirim pesan singkat kini beralih berkomunikasi langsung dan dalam waktu yang lama. Tarif pembicaraan baru yang hanya sekitar 2x tarif SMS dan ditambah dengan informasi yang akan disampaikan lebih jelas dan lengkap maka pelanggan lebih memilih menelpon daripada mengirim SMS. So, you get what you pay. Dengan demikian tarif murah tidak diimbangi dengan kapasitas jaringan sehingga kualitas layanan sangat rendah.

 

Kedua, tarif sangat murah bisa membahayakan bagi kelangsungan industri telekomunikasi. Investor tidak lagi melirik industri ini karena keuntungan yang dihasilkan akan sangat tipis. Pada akhirnya bagi masyarakat yang saat ini belum terjangkau sarana telekomunikasi akan semakin lama menunggu mendapatkan sarana ini. Hal ini disebabkan kemampuan ekspansi operator yang menurun ditambah berkurangnya minat investor.

Hal yang sama juga terjadi pada new comers dalam industri ini. Dengan jumlah pelanggan yang belum seberapa, mereka harus bersaing dengan para inkumben dengan basis pelanggan yang besar dan tarif yang murah pula. Ditambah dengan jangkauan yang luas, para calon pelanggan tentunya akan memilih operator inkumben. Dan pada masa datang mungkin kita akan melihat beberapa operator telekomunikasi seluler akan bergabung agar tetap exist.

Jadi apa sesungguhnya yang kita inginkan?

Sejatinya adalah a win-win solution. Masyarakat menginginkan tariff yang murah, Operator mengabulkannya tetapi dengan kualitas layanan yang baik. Tarif in harus tetap memberikan keuntungan bagi operator (dan juga investor tentunya) sehingga mereka tetap mampu melakukan ekspansi ke seluruh negeri.

20 Maret 2008

Seluler Indonesia, Terlalu Banyak Operator?

Saat ini Indonesia merupakan negara dengan perkembangan yang sangat tinggi di dalam industi telekomunikasi, khusunya seluler. Jumlah pelanggan meningkat tajam pada 5 tahun terakhir ini. Sejak tahun 2007 lalu, Indonesia mempunyai 11 operator dengan teknologi dasar yakni GSM dan CDMA. Operator dengan teknologi GSM adalah: Indosat, Telkomsel, Excelcomindo Pratama, and two new operators HCPT (Hutchinson Charon Pokhand Telecommunication) and NTS (Natrindo Telekomunikasi Selular). Semua operator GSM juga memiliki lisensi 3G. Sementara itu operator CDMA adalah: Telkom (Flexi), Indosat (Starone), Mobile-8 (Fren), Bakrie (Esia), Sampoerna (Ceria) dan yang terbaru Smart Telecom (Smart).

Bagaimana pendapat anda tentang kondisi ini? Apakah kita sudah memiliki jumlah operator seluler yang memadai, ataukah terlalu sedikit atau terlalu banyak?

Benchmark dengan negara lain

Jika kita bandingkan situasi ini dengan negara tetangga, Malaysia misalnya, mereka hanya punya 3 operator seluler (Digi, Maxis, Celcom) dengan teknologi dasar GSM dan 2 lisensi CDMA untuk Telecom Malaysia. Ada juga 2 operator baru 3G yakni Time3G dan U Mobile.

Hal yang mirip juga dengan Singapore. Dengan populasi hampir 4 juta, Singapore hanya memiliki 3 operator seluler (SingTel, StarHub, MobileOne) dengan berbasis teknologi GSM. Tidak ada lisensi CDMA yang dikeluarkan.

Mungkin anda berpikir bahwa ini komparasi yang tidak seimbang. Baik Malaysia maupun Singapore adalah negara kecil dengan populasi yang tidak banyak. Negara kota seperti Singapore mempunyai luas kurang dari setengah Jakarta. Kami setuju dengan argumentasi ini, jadi mari kita pilih India sebagai negara perbandingan.

Seperti Indonesia, India also juga merilis kedua lisensi seluler berbasis GSM dan CDMA. India punya 7 operator GSM dan 8 operator CDMA. jadi India mempunyai jumlah operator seluler yang lebih banyak dari Indonesia.

Jika kita bandingkan luas negara dan jumlah populasi antara Indonesia dan India, kita mungkin akan sampai pada kesimpulan bahwa India harusnya punya operator seluler yang lebih banyak dari pada Indonesia.

Tapi, tunggu dulu! Semua operator seluler di Indonesia mempunyai lisensi nasional sehingga mereka bisa menggelar jaringannya di seantero negeri. Dengan lisnesi jenis ini target utama para operator adalah kota-kota besar tempat berkumpulnya uang. Beberapa tahun lalu sebetulnya ada operator regional, tetapi kini mereka telah memperluas lisensinya menjadi operator berskala nasional.

Bagaimana dengan India?

Sebagian besar operator seluler di India hanya memiliki lisensi regional. Hanya 4 operator berbasis GSM dan 2 operator berbasis CDMA yang mempunyai lisensi nasional. Silakan kunjungi www.cdg.org dan www.coai.in untuk data lebih lengkap. Dengan data-data di atas dapatkah kita menyimpulkan bahwa Indonesia kebanyak operator seluler?

10 Maret 2008

Selamat Datang di Diskusi Telekomunikasi Indonesia

Hai......... Selamat Datang di Diskusi Telekomunikasi Indonesia. Sebetulnya ini adalah blog serius saya yang pertama. Saya ingin menulis beragam isu tentang telekomunikasi di Indonesia. Saya akan postingkan pendapat-pendapat saya mengenai isu, situasi dan teknologi di bidang telekomunikasi. Anda diundang untuk memberikan komentar. Saya berharap semoga ide-ide cemerlang dapat diimplementasikan di negara indah seperti Indonesia ini. Apa yang saya maksudkan dengan telekomunikasi di sini mencakup fixed, seluler, satellite, teknologi baru seperti 3G, WiMax, LTE dan kemajuan lain di bidang ini. Bukan hanya itu, saya juga ingin mengangkat beberapa isu tentang regulasi yang mungkin menguntungan atau malah jelek jika diimplementasikan di Indonesia. Jadi, kunjungilah blog ini secara teratur jika anda ingin mengetahui isu-isu hangat tentang ide-ide telekomunikasi di Indonesia. Salam S Pamenan