28 Desember 2008

Bakrie Telecom Menangkan Operator Penyelenggara SLJJ

Menteri Komunikasi dan Informasi Indonesia telah menetapkan PT Bakrie Telecom sebagai pemenang seleksi penyelenggara layanan sambungan telepon jarak jauh (SLJJ) menggunakan jaringan tetap pada tanggal 16 Desember 2008 lalu. Kompetitor Bakrie dalam seleksi ini adalah Mobile-8, operator CDMA. Tetapi Mobile-8 tidak serius dalam mengejar kemenangan karena terbukti mereka tidak menyetorkan jaminan penawaran. Tinggallah Bakrie yang berkompetisi dengan dirinya sendiri dengan kelengkapan dokumen tender dan mereka ternyata lulus.

Sebagai pemenang, Bakrietel harus menyerahkan jaminan pelaksanaan ( performance bond ) selambatnya pada tanggal 9 Januari 2009. Jika mereka gagal melakukan itu, jaminan penawaran mereka akan dicairkan oleh komite seleksi. Hal ini tidak serta merta menghilangkan kewajiban Bakrietel untuk menyerahkan jaminan pelaksanaan. Izin prinsip rencannya dikeluarkan pada tanggal 23 January 2009.

Tahun lalu, Bakrietel juga memenangkan lisensi untuk penyelenggaraan sambungan telepon internasional. Ini tentunya melengkapi lisensi nasional fixed wireless access dengan mobilitas terbatas menggunakan CDMA dengan produk Esia. Selamat untuk Bakrietel. Bakrie sekarang punya banyak perangkat untuk maju.

10 Desember 2008

Malaysia Lebih Maju Dalam Sejumlah Regulasi Telekomunikasi

Malaysia adalah negara tetangga kita. Malaysia mempunyai dua wilayah yang terpisah cukup jauh, Semenanjung dan Kalimantan Utara. Dalam beberapa aspek regulasi Telekomunikasi, Malaysia lebih maju dari Indonesia. Mari kita perhatikan 3 hal berikut ini: 3G, WiMAX dan Number Portability.

3G:

Malaysia menggelar tender 3G sejak tahun 2002 lalu, jauh lebih dulu dari pada Indonesia yang melaksanakan hal serupa pada awal 2006 lalu. Tender di Malaysia waktu itu hanya menghasilkan dua pemenang yakni : Telekom Malaysia dan UMTS Sdn Bhd. Dan saat ini kedua operator ini sudah beroperasi dengan baik. Nopember 2006 lalu, dua 3G operator baru muncul yakni: TIME dotcom Sdn Bhd dan MiTV.

WiMAX

Malaysia menggelar tender untuk WiMAX pada tahun 2007 lalu. Pemenang tender yang dirilis pada awal Maret 2007 itu adalah Green Packet, REDtone International, YTL E-Solutions dan Asiaspace Dotcom. Ke semua pemenang ini adalah perusahaan kecil yang sedang berkembang.

Para pemenang akan menginvestasikan sekitara $86 juta dalam tiga tahun pertama untuk menggelar layanan. Tidak ada biaya lisensi yang diminta.

Sementara Indonesia baru akan mengeluarkan lisensi untuk BWA dengan teknologi utama yang akan dipakai adalah WiMAX pada awal 2009 mendatang. Berbeda dengan tender 3G yang mengeluarkan lisensi nationwide, BWA akan menganut regional licenses. Indonesia akan dibagi menjadi 14 region dan peserta dimungkinkan untuk menawar di satu region saja.

Number Portability

Number Portability adalah kemampuan untuk mempertahankan nomor telepon kendatipun kita berpindah penyedia layanan. Misalkan karena kualitas layanan yang buruk, anda memilih berpindah ke operator lain tetapi tetap membawa nomor telepon anda yang lama. Dengan cara ini maka semua teman dan kerabat anda tidak kehilangan kontak dengan anda.

Malaysia telah merampungkan implemntasi MNP (mobile number potability) pada oktober tahun ini. Program yang dicanangkan oleh Menteri Komunikasi Malaysia pada akhir 2005 lalu kini sudah menjadi kenyataan.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sampai sejauh ini belum ada tanda-tanda akan ditabuhnya gong untuk pencanangan implementasi number portability. Menurut road map yang dibuat oleh tim dari BRTI tahun lalu, pencanangan number portability baru akan dilakukan pada tahun 2011 mendatang. Artinya, implementasinya baru akan selesai pada tahun 2013 mendatang. Masih lama memang.

Barangkali luas negara yang kecil dengan penduduk yang tidak seberapa lebih memudahkan regulator telekomunikasi di negeri jiran untuk membuat keputusan-keputusan yang maju.

04 Desember 2008

Akankah WiMAX mengungguli GSM, 3G dan CDMA di Pasar Indonesia?

Kalo menurut jadual yang ada di draft white paper tentang BWA sih, dokumen lelang untuk BWA sudah dikeluarkan oleh Ditjen Postel sejak seminggu yang lalu. Namun sampai sekarang beritanya belum ada. Jadi emang kemungkinan besar tender BWA sedikit tertunda seperti postingan sebelumnya. Namun kali ini saya lebih menyoroti peluang WiMAX salah satu teknologi yang akan menjadi pilihan utama dalam implementasi broad band wireless access di Indonesia.

WiMAX adalah salah satu teknologi nirkabel berpita lebar yang didukung secara hebat oleh industri telekomunikasi dan komputer, murah dan mempunyai standardisasi yang jelas. Dibuat untuk menyalurkan layanan tetap dan bergerak seperti VoIP, informasi dan video dengan biaya yang sangat murah. Sistem WiMAX mampu menjangkau area geografis yang luas samapi sejauh 50 km, dan menyediakan lebar pita yang besar ke end-user sampai dengan 72 Mbps (diambil dari WiMAX forum).

WiMAX sering diberikan bermacam atribut seperti: -Mudah diinstall (penyebab utamanya adalah tidak adanya kewajiban LOS, line of sight. WiMAX bisa dengan NLOS) -Fleksible: bisa point to multi point last mile connection atau sebagai backhaul bagi PSTN -Worldwide standard -Murah -Banyaknya pilihan spektrum frekuensi yang bisa dipakai dan lain sebagainya.

Dengan begitu banyaknya keuntungan dari WiMAX seperti dituliskan diatas, apakah ini berarti bahwa WiMAX akan mengungguli teknologi telekomunikasi lain yang sudah ada di Indonesia? Yang dimaksudkan di sini tentunya dalam sisi bisnis.

Mari lihat kembali 3 tahun ke belakang. Pada akhir 2005, Ditjen Postel telah memberikan informasi ke publik tentang akan dikeluarkannya lisensi 3G. Banyak orang yang punya eforia bahwa dengan 3G mereka akan punya gaya hidup yang lebih baik dengan melakukan video call, akses internet kecepatan tinggi, video ring back tone dan lain sebagainya dan dengan cara lambat namun pasti mereka segera meninggalkan teknologi saat itu, 2G dan 2.5G.

Pada akhir Januari 2006, lisensi 3G dikeluarkan dengan para pemenang adalah 3 besar operator GSM yakni Telkomsel, Indosat dan XL. Sementara dua operator lain yang sudah lebih dulu mendapatkan lisensi HCPT dan Axis. Sudah hampir 3 tahun berlalu, kemajuan 3G tidaklah sehebat yang diperkirakan sebelumnya. Sejauh ini industri telekomunikasi nasional masih mengandalkan pendapatannya dari layanan suara dan pesan singkat yang sebetulnya bisa diberikan oleh teknologi 2G dan 2.5G.

Saya percaya bahwa hal yang sama akan terjadi dengan WiMAX. Aplikasi utama dalam beberapa tahun ini masih akan tetap layanan suara kendati misalnya layanan data (internet) tumbuh cukup pesat. Karena jaringan telekomunikasi sudah cukup mapan di kota-kota besar yang dapat menyediakan kedua layanan tadi (suara dan data), maka saya pikir WiMAX akan sukses di rural yang fasilitas telekomunikasinya masih sangat terbatas. Jadi pilihan WiMAX untuk Universal Service Obligation di Indonesia harus diacungi jempol.

Jadi kami berpendapat bahwa WiMAX tidak akan mengungguli teknologi telekomunikasi lain yang ada saat ini di Indonesia dalam sisi bisnis. Ia mungkin jadi pilihan utama di daerah rural.

01 Desember 2008

Tender BWA: Kemungkinan Tertunda

Seperti dituliskan dalam postingan sebelumnya, Regulator Telekomunikasi Indonesia dalam draft white paper tentang BWA merencanakan merilis lisensi BWA sebelum akhir tahun 2008 ini. Namun kemungkinan besar rencana ini akan tertunda. Hal ini dapat dilihat dari tahapan proses pertama yakni pengambilan dokumen tender yang seharusnya sudah dilakukan pada minggu ke empat bulan Nopember lalu sampai saat ini belum juga diumumkan.

Andaikan saja minggu ini dokumen ini dikeluarkan dan prosesnya berjalan lancar, maka paling cepat tender baru akan dimulai pada awal Januari 2009 mendatang. Tapi seperti diketahui, akhir tahun adalah masa-masa sibuk yang disertai dengan banyaknya hari libur seperti saat ini, Idhul Adha, Natal dan Tahun baru. Akibatnya masa kerja efektif jauh berkurang. Mengingat itu semua, tender BWA paling cepat baru akan terealisasi pada bulan Pebruari 2009 mendatang. Jika ini terjadi maka waktunya persis tiga tahun setelah tender 3G yang dilaksanakan pada awal 2006 lalu.

Regulator Telekomunikasi Indonesia dengan sangat elegan menempuh cara tender untuk setiap lisensi yang sangat diminati. Kami sangat mendukung semua langkah-langkah yang fair dan transparan. Selamat!

26 November 2008

Perang Iklan Operator Seluler

Persaingan di dunia telekomunikasi makin hebat saja. Coba perhatikan gambar iklan dibawah ini. Seperti terlihat, persaingan cukup tinggi sampai ada klaim pembakaran umbul-umbul Telkomsel di Sidikalang Sumatera Utara oleh pihak XL. Namun syukurlah hal ini sudah diklarifikasi dan kedua operator sepakat berdamai dengan prakarsa BRTI. Dari informasi yang didapat yang diambil dari detik.com, kasus yang terjadi seperti di Sidikalang ini bukanlah kasus pertama. Namun semua kasus yang terjadi sejauh ini di lapangan masih bisa diselesaikan di tempat, tidak sampai mencuat ke permukaan. Kasus Sidikalang lah yang baru terdengar sampai jauh......... Sebagai pengguna layanan telekomunikasi nasional, kami hanya berharap bahwa berkompetisilah dengan cara yang elegan tanpa harus merusak baik secara fisik maupun secara image atas produk pihak lain. Konsumen akan tetap memilih berdasarkan layanan terbaik yang diberikan oleh para penyedia layanan. Bravo Fair Competition!!!

04 November 2008

Dijual: Operator CDMA

Menurut data dari Bursa Efek Indonesia, pada tanggal 19 September dan 22 September 2008, PT Global Mediacom Tbk yang dimiliki oleh Hary Tanoesoedibjo telah melepas 22,79% saham PT Mobile-8 Telecom Tbk. Saat ini, saham perusahaan yang dimilikinya tinggal 28.21% dari sebelumnya 66,8%. Seperti diketahui Mobile-8 adalah salah satu operator CDMA di Indonesia.

Semenatra itu, sebulan yang lalu harian Bisnis Indonesia melaporkan bahwa tiga investors dari Timur Tengah menyatakan ketertarikannya kepada saham Bakrie Telecom termasuk di dalamnya QTel, yang belum lama ini membeli 40.8% saham di operator seluler terbesar kedua di Indonesia, PT Indosat.

Tambahan lagi, baik Telkom Flexi maupun Startone Indosat telah menurunkan ekspansinya.

Lho, apa sih yang sebernarnya terjadi?

Ada tiga kemungkinan penyebabnya yakni msalah keuangan internal perusahaan, efek buruk dari perang tarif atau masalah fleksibilitas teknis.

Dalam kasus Bakrie, beberapa waktu lalu pimpinan Bakrie Group mengatakan bahwa mereka akan menjual aset sejumlah anak perusahaan mereka termasuk di dalamnya Bakrie Telecom untuk mengumpulkan uang guna membayar hutang mereka sejumlah US$1.2 milliar yang akan jatuh tempo pada April 2009 nanti. Jadi kondisi keuang internal telah mengarahkannya mengambil langkah tersebut.

Bagaimana dengan kasus lainnya?

Apakah perang tarif telah memakan korban ataukah krisis ekonomi telah mempengaruhi bisnis ini?

Mobile-8 telah mengumumkan akan keluar dari perang tarif. Sebagai gantinya mereka akan menggantinya dengan memberikan value added services. Bagaimana dengan operator lain? Kita masih harus menunggu.

Semua orang di Indonesia tahu bahwa tarif berkomunikasi dengan handphone kini sangat murah. Makanya kualitas jaringan akan memegang peran yang sangat penting. Jika kualitas jaringan mereka jeblok, para pelanggan akan berpindah ke operator lain.

Kelihatannya hanya operator CDMA yang berdarah-darah. Operator GSM seperti Telkomsel, Indosat atau XL dan juga operator baru seperti Axis dan Three masih melakukan ekspansi jaringan. Mereka malah terus membangun.

Satu hal penting harus diingat bahwa tarif murah telah menggerus pendapatan operator.

Atau adakah keterbatasan spektrum frekuensi telah mengurangi fleksibilitas mereka. Seperti sebelumnya sudah ditulis pada Kompetisi CDMA dan GSM di Indonesia , semua operator CDMA mempunyai spektrum yang sangat terbatas (kurang lebih 5MHz bandwidth), sehingga mereka punya flesibilitas yang terbatas pula dalam membuat perancangan jaringan mereka yang berimbas akan tingginya biaya untuk ekspansi jaringan. Problem semacam ini tidak ditemukan pada operator GSM karena mereka sedikitnya mempunyai lebar pita 10MHz.

Jadi, apa dong alasan dibalik situasi ini? Sejauh ini kita tidak mengerti. Solusinya? Kami percaya bahwa pemindahtangan kepemilikan belum tentu menjadi solusi. Merger diantara operator CDMA perlu dipertimbangankan.

31 Oktober 2008

Anomali Pentarifan Seluler

Menurut data dari Ditjen Postel (diluncurkan pada 9 Oktober 2008), jumlah pelanggan telekomunikasi Indonesia lebih dari 134 juta pelanggan yang terdiri atas 8,7 juta pelanggan jaringan tetap (kabel), 12,7juta pelanggan FWA (Telkom flexi, starone, esia, dan hepi) dan 113 juta pelanggan seluler. Seperti negara berkembang lainnya, komposisi prabayar dan pasca bayar dari pelanggan seluler dan FWA di Indonesia juga timpang, 96% (lebih dari 121m) adalah pelanggan prabayar dengan hanya kurang dari 4% adalah pasca bayar. Hal ini sangat berbeda dengan negara maju di mana komposisi ini terbalik, yaitu jumlah pelanggan pasca bayar jauh melampaui jumlah pelanggan prabayar. Alasan klasik mereka adalah mereka tidak ingin membayar segala sesuatu yang belum mereka gunakan. Ngomong-ngomong, apakah Anda pernah membandingkan skema pentarifan untuk kedua jenis pembayaran (prabayar dan pasca bayar) telekomunikasi selular di Indonesia? Mari kita ambil Telkomsel sebagai contoh. Jika kita melihat kepada harga dasar maka tarif paska bayar lebih rendah dari tarif prabayar (Rp 600/min Halo, Simpati Rp 1500/min & Kartu As Rp 900/min) untuk on-net lokal, off-net (Halo Rp750 / min, Simpati Rp 1600/min; Kartu As Rp 900/min). Hanya tarif SMS lebih tinggi dari prabayar (Halo Rp 150, 125 Rp Simpati, Kartu As Rp 88). Namun, jika kita menyelidiki tarif promo, maka tarif prabayar jauh lebih rendah dari tarif paska bayar. Tarif untuk prabayar hanya Rp 0.5/second atau Rp 30/min, jauh di bawah tarif untuk pasca bayar Rp 600/min). Hal yang serupa akan ditemukan pada operator selular lainnya seperti Indosat, dan XL. XL misalnya hanya meminta pelanggan prabayar untuk membayar Rp 1.000 untuk 60 menit, sementara pelanggan paskabayar harus membayar Rp 9/detik atau Rp 540/menit. Indosat menempatkan Rp 15/detik ke semua operator untuk pasca bayar dan Rp 1000/hari untuk pelanggan prabayar. Saya rasa, skema tarif ini adalah sebuah anomali jika kita menghitung biaya sistem prabayar. Panggilan prabayar memerlukan lebih banyak sumber daya. Misalnya, sebelum terhubung, sistem akan melakukan penegecekan jumlah dana pemakai, apakah itu masih memiliki cukup dana/pulsa untuk membuat panggilan. Pemeriksaan ini berlangsung terus-menerus selama melakukan percakapan. Setelah panggilan selesai, sistem akan melaporkan biaya dari panggilan untuk mengurangi kredit. Jadi perlu sebuah sistem yang realtime. Persyaratan ini berbeda dengan sistem pasca bayar. Semua pemeriksaan dapat ditunda sampai akhir bulan saat mengirimkan tagihan. Dalam pandangan keamanan, pengguna paskabayar memiliki identitas yang jelas karena ada validasi pada awal pendaftaran. Sementara pengguna prabayar yang mendaftar online dapat memasukkan data yang tidak valid. Jadi, mengapa operator tidak menawarkan insentif yang bagus untuk pasca bayar? Shall we jump to conclusion that operators are more beneficial by getting money earlier before their network is used? Akan kah kita melompat ke kesimpulan bahwa operator lebih diuntungkan dengan mendapatkan uang lebih dulu sebelum jaringan mereka digunakan? Dan jumlah ini yang lebih besar dari biaya membangun sistem prabayar?

21 Oktober 2008

Licensi BWA Indonesia segera dikeluarkan

Otoritas telekomunikasi Indonesia segera mengeluarkan lisensi untuk akses nirkabel pita lebar BWA (broadband wireless access) pada akhir tahun 2008 ini. Menurut informasi yang ada dalam draft white paper tentang BWA terbaru, pada minggu ke-3 Nopember ini akan diumumkan akan adanya lelang/seleksi penyelenggara BWA dan diikuti dengan prosesnya sendiri yang baru akan berakhir di penghujung tahun 2008 ini. Spektrum frekuensi yang akan dilelanga adalah di 2.3GHz dan 3.3GHz. Pada 2.3GHz, tahap peratama hanya dilelang 15 MHz yaitu 2375 – 2390 MHz. Sementara untuk 3.3GHz, ada 100 MHz yang akan dibagi menjadi 8 blok masing-masing 12.5 MHz. Sayangnya, untuk 3.3GHz lokasi paling diminati (Area Jabodebatek) sudah diduduki sehingga tidak termasuk region yang dilelang. Pihak-pihak yang bisa berpartisipasi adalah para penyelenggara/penyedia jaringan dan jasa baik yang lama maupun muka-muka baru. Kedua spektrum frekuensi ini hanya diizinkan untuk nomadic BWA. Lisensi ini berdasarkan regional, dan Indonesia telah dibagi menjadi 14 region. Jiwa dari lisensi ini adalah penggunaan produksi dalam negeri. Makanya regulator mensyaratkan bahwa minimum 30% CAPEX dan 50% OPEX harus dibelanjakan di dalam negeri. Jadi, bersiap-siaplah!!!. Untuk informasi lebih lengkap, silakan baca draft white paper BWA terbaru.

11 Oktober 2008

Data Pelanggan Telekomunikasi di Indonesia

Direktorat Jenderal Pos dan Telekomunikasi pada hari Kamis 9 Oktober lalu merilis data pelanggan telekomunikasi nasional. Data ini mencakup baik pelangan fixed, FWA maupun Seluler sejak tahun 2004 lalu sampai dengan pertengahan Juni 2008. Berikut adalah data tersebut.

Operator Fixed2004200520062007June 2008
PT Telkom8,559,3508,686,1318,709,2118,685,0008,654,000
PT Bakrie Telecom (Ratelindo)120,990114,08268,359--
PT. Indosat (I-Phone)20,00021,72426,63230,47930,479
PT. Batam Bintan Telekomunikasi (BBT)2,8782,5302,5002,3932,393
Fixed Wireless Access
Telkom Flexi
prabayar1,429,3683,240,5003,381,4265,535,0006,630,000
paskabayar821,300794,427828,000763,000
Indosat Starone
prabayar40,854229,726338,435594,203750,628
paskabayar11,89819,70820,54533,73144,805
Bakrie Esia
prabayar176,453351,8261,414,9203,695,8174,372,094
paskabayar 14,50820,30364,278124,884119,009
Mobile-8 Hepi
prabayar
paskabayar
Operator Seluler
Telkomsel
prabayar14,963,00022,798,00033,935,00045,977,00050,549,000
paskabayar 1,328,0001,471,0001,662,0001,913,0001,894,000
Indosat
prabayar9,214,66313,836,04615,878,87023,945,43131,613,922
paskabayar539,944676,407825,859599,991773,514
Excelcomindo (XL)
prabayar 3,743,0006,802,3259,141,33114,988,0002,423,000
paskabayar48,000176,194 386,639481,000475,000
Mobile-8 Fren
prabayar5000001,150,0001,778,200 2,920,2132,920,213
paskabayar 50,00047,68892,58892,588
Sampoerna Ceria
prabayar10,609133,746310,176 310,176
paskabayar 967288288
NTS - Axis
prabayar 10,1554,7884,788
paskabayar2,560
HCPT - Three
prabayar2,036,2022,036,202
paskabayar3,204 3,204
Smart Telecom
prabayar115,000115,000
paskabayar
Sumber: DG Postel Jumlah total pelanggan (Fixed, FWA dan Seluler) adalah: 2004: 40,712,988 2005: 60,499,948 2006: 78,623,748 2007: 112,916,388 Juni 2008: 134,577,303 Beberapa catatan: beberapa operator belum memperbaharui datanya seperti: Fren, Ceria, Axis dan Three.

06 Oktober 2008

Trafik Telekomunikasi di Sekitar Idul Fitri 1429H

Seperti biasanya, masa-masa sekitar Idul Fitri adalah masa-masa kritis bagi semua operator telekomunikasi karena lonjakan yang teramat tinggi baik untuk komunikasi suara maupun untuk layanan pesan singkat (SMS). Bagi operator yang dapat menangani semua trafik ini maka mereka akan mendapat keuntungan yang besar sementara bagi yang gagal, mereka akan kehilangan pendapatan yang banyak.

Berikut adalah data-data trafik pada masa-masa sekitar idul fitri 1429H.

PT Excelcomindo Pratama (XL) menyampaikan bahwa trafik tertinggi terjadi pada H-1 (30 Sept) dimana trafiknya meningkat lebih dari 149% di atas dari data H-1 tahun lalu. Trafik suara pada H-1 adalah 143% di atas data tahun lalu (850 juta panggilan dibanding 350 juta panggilan pada tahun lalu). Sementara itu trafik SMS hanya sekitar 16% di atas data tahun sebelumnya.

PT Indosat Tbk mengumumkan bahwa panggilan tertinggi terjadi pada H+1 (2 Okt), kira-kira 108% (272 juta detik) bila dibandingkan dengan data pertengahan September lalu. Tetapi, trafik SMS malah turun 0.7% pada periode yang sama.

Sementara itu data dari operator seluler terbesar Indonesia, PT Telkomsel belum ada. Tetapi mereka sudah mewanti-wanti bahwa trafik SMS mereka meningkat 300%-400% jika dibandingkan dengan data-data hari biasa.

Gatot Dewa S Broto, Humas DG Postel memperkirakan bahwa peninkatan panggilan disebabkan oleh beberapa hal. Pertama, para pelanggan mengalami trauma akan kegagalan pengiriman SMS mereka seperti yang terjadi pada tahun yang lalu. Mereka tentunya tidak mau hal ini terulang lagi. Kedua, biaya percakapan kini jauh lebih murah, karena itu mereka lebih suka berbicara langsung saja.

Hasil Monitoring

Pada tanggal 23 September lalu, Ditjen Postel dan BRTI melakukan pengujian kualitas layanan di sepanjnag arus mudik, baik yang ke arah Jawa maupun yang ke arah Sumatera. Hasilnya semua operator lolos tahp ini dengan beberapa catatan untuk Three (HCPT), Axis (GSM & 3G), Startone dan Hepi (CDMA), kendati tidak semuanya lolos dalam jalur ini, namun masih bisa dimengerti.

Sayangnya informasi hasil test hanya tentang cakupan signal saja (coverage). Informasi lain seperti: dropped call, blocked call dan congestion call tidak diumumkan. Kesuksesan suatu panggilan ditentukan oleh data-data tersebut. Standar Kualitas Layanan dihitung bukan hanya dari cakupan signal saja, tetapi juga dari data-data tersebut. Jadi, untuk mengatakan suatu operator lolos standar kualitas layanan, data dropped call, blocked call dan congestion call haruslah pada suatu nilai minimal tertentu yang logis. Kita berharap regulator sudah mendefinisikan hal ini sehingga kita dapat membamdingkannya dengan data faktual di lapangan.